Formulir Kontak

 

ENERGI PADA PAKAN

Energi bukan merupakan nutrien. Energi diperoleh dari oksidasi bahan organik (karbohidrat, protein dan lemak). Energi diperlukan untuk fungsi tubuh serta melancarkan reaksi sintesis dalam tubuh. Nilai energi pakan dinyatakan sebagai Energi Metabolisme (ME), Digestible Energy (DE), Net Energy (NE), dll. Satuan energi adalah Kalori dan Joule.

pullet

Kalori (Cal) adalah panas yang digunakan untuk menaikkan temperatur 1 gram air dari 16,5 oC menjadi 17,5 oC. Gross Energy (GE) adalah total energi yang dilepaskan sebagai panas ketika bahan pakan (zat) dioksidasi secara komplit menjadi CO2 + H2O. Digestible Energy (DE) adalah gross energy dari pakan yang  dikonsumsi dikurangi gross energy yang keluar bersama feces.

DE = ( Energi dari pakan per unit bahan kering x Bahan kering pakan) – ( Energi dari feces per unit bahan kering x bahan kering feces).

DE tidak umum digunakan pakan unggas karena feces diekskresikan secara bersama-sama dengan urine. Metabolime Energy (ME) adalah gross energy dari pakan yang dikonsumsi dari pakan dikurangi gross energy yang terkandung dalam feces, urine dan gas. Produk gas pada ayam diabaikan. True Energy (TE) adalah nilai gross energy pakan yang dikonsumsi setelah dikurangi dengan energy dari ekskreta murni (nitrogen yang tertahan). Net Energy (NE) adalah energi metabolisme dikurangi energi yang hilang sebagai panas yang meningkat. Termasuk energi untuk maintenance (hidup pokok) dan produksi telur.

Kebutuhan Metabolisme Energi dapat berubah-ubah tergantung spesies, genetik, umur ayam, lingkungan dan pola konsumsi pakan. Pola konsumsi pakan dipengaruhi perubahan temperatur (suhu) lingkungan kandang. Feed intake akan turun +/- 1,5 gram bila suhu meningkat 1 oC (diatas 30oC) dan turun 2,5 - 4 gram/ekor pada suhu di atas 35 oC.

Contoh Hasil Analisa Proksimat

pullet
Berdasarkan 100% bahan kering

Hasil sebenarnya :
pullet

Pengaruh energi pakan :

• Protein naik, berat badan saat dewasa lebih tinggi, ayam akan lebih cepat bertelur,
• Energi naik mengurangi pakan sampai batas tersedia,
• Kenaikkan protein sedikit menaikkan berat telur,
• Energi turun 10% , berat telur turun 0,9 gram/butir

Kebutuhan dan perbandingan protein/ME :
pullet
pullet 

Oleh : Ir. Agus Suyanto

Total comment

Author

Unknown
Dari tahun ke tahun, keuntungan yang didapat peternak ayam petelur semakin menipis, hal ini disebabkan oleh meningkatnya biaya sarana produksi peternakan yang tidak diikuti dengan harga telur secara signifikan. Untuk menghadapi hal tersebut, peternak layer harus berlomba untuk meningkatkan efisiensi secara global, agar tetap bisa bertahan dalam bisnis ini.

Efisiensi dalam hal penggunaan pakan, perlu ditempatkan pada urutan teratas pada target efisiensi. Karena biaya pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam produksi telur. Istilah efisiensi pakan bukan berarti mengurangi pakan baik secara kualitatif maupun kuantitatif sampai dibawah kebutuhan ayam, tetapi mencegah pemborosan-pemborosan yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Sebagai contoh misalnya karena panik dengan harga telur yang rendah, seorang peternak mengganti pakannya dengan pakan lain yang lebih murah Rp 100. Satu minggu pertama, tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Minggu ke dua dan seterusnya FCR meningkat hanya 0,1 (dari 2,2 menjadi 2,3). Kalau dihitung lebih teliti, dengan penggantian pakan tersebut kerugian yang dialami peternak menjadi semakin besar.

Contoh lain yang sering terjadi adalah pemilihan pullet. Banyak peternak yang masih tergiur untuk membeli pullet dengan harga rendah, tanpa melihat reputasi dari pembuat pullet tersebut. Sebagai peternak layer, kita harus lebih jeli dalam menentukan pilihan. Perbedaan harga pullet Rp 1.000, tidak begitu berarti apabila produksi telurnya bisa dua butir lebih banyak. Kejelian dalam penghitungan hal-hal seperti tersebut di atas sangat diperlukan pada masa sekarang ini untuk dapat memproduksi telur dengan tingkat efisiensi yang tinggi.

Faktor lain yang perlu dilakukan untuk mendapatkan tingkat efisiensi yang tinggi adalah seleksi ayam yang ada dan membuang ayam-ayam yang kurang produktif.
Seleksi ayam ada dua macam :

A. Pada saat penerimaan pullet.
Faktor-faktor yang perlu di perhatikan : Ukuran tubuh, berat tubuh, kerangka tubuh (frame), cacat fisik, status kesehatan.
Berat tubuh bukanlah ukuran mutlak terhadap kualitas pullet, karena pada banyak kasus, ayam-ayam yang produktivitasnya bagus, justru mengalami keterlambatan kedewasaan. Faktor yang jauh lebih penting untuk diperhatikan adalah kerangka tubuh (frame), karena merupakan refleksi dari kemampuan ayam untuk berproduksi.

B. Setelah melewati masa puncak produksi
Strain ayam petelur modern, lebih mudah menunjukkan performance yang jelek, apabila tidak ditangani sesuai dengan rekomendasi pembibit. Dengan telah dilakukannya perbaikan genetic pada breeder, membawa konsekwensi perbaikan managemen pada tingkat peternak. Tetapi kebanyakan peternak masih menerapkan managemen yang lama. Hal ini sering tidak disadari oleh peternak, sehingga timbul anggapan “Ayam sekarang kok gampang sakit”, “pelihara ayam kok makin sulit”, “produksinya kok cepat turun” dll.
Apabila hal tersebut di atas sudah terlanjur terjadi, maka perlu dilakukan seleksi untuk membuang ayam-ayam yang kurang produktif.

Metode Seleksi Ayam yang kurang produktif dapat dilakukan dengan berbagai cara:

1. Metode Absensi
Metode ini merupakan metode yang paling sederhana dan paling banyak dilakukan oleh peternak. Metode ini dilakukan dengan memberi tanda di batteray pada ayam yang bertelur. Setelah waktu tertentu, ayam yang sedikit mendapatkan tanda, dianggap tidak produktif, dan dilakukan culling.

Kelemahan dari metode ini adalah :
- Apabila dalam satu batteray berisi 2 ekor atau lebih, akan kesulitan menentukan ayam mana yang produktif dan yang tidak.
- Bisa terjadi kesalahan seleksi, apabila ayam yang sebetulnya produktif, tetapi pada saat dilakukan seleksi, ayam masih dalam keadaan pause (istirahat).

2. Dengan mengamati karakteristik fisik ayam.

Tabel di bawah ini merupakan karakteristik ayam yang produktif dan kurang produktif.




3. Dengan mengamati berkurangnya warna kuning pada beberapa bagian tubuh ayam.




Oleh : Prass Kusumo

Total comment

Author

Unknown
Penanganan Pullet Umur 16 Minggu s/d 24 Minggu

A. MENANGANI PULLET YANG BARU DATANG

1. Hindari stress berlebihan
  • Segera bongkar SEMUA keranjang pullet dari truk dan tempatkan pada tempat yang teduh.
  • Masukkan pullet ke kandang baterai dan jangan ditimbang dulu.
 2. Memberi Minum Pullet
  • Pullet diberi minum secukupnya.
  • Bila perlu tambahkan larutan gula merah (sorbitol) dan vitamin C. Untuk 1.000 ekor pullet, siapkan 150 liter air minum dicampur dengan gula merah 2 kg dan vitamin C 20 gram.
  • Jika air minum sudah habis, berikan antibiotik berspektrum luas.
  • Namun bila air minum tidak habis, pemberian antibiotik dilakukan mulai esok harinya.
 3. Memberi Pakan Pullet
  • Pakan yang diberikan berupa pakan starter ayam layer,  sebagai berikut :

4. Menimbang Berat Badan
  • Berat badan pullet sebaiknya ditimbang 1 hari setelah pullet datang.
  • Tujuannya untuk mendapatkan data berat badan sebenarnya.
  • Penyusutan berat badan karena transportasi bervariasi antara 5-10 %.
5. Menyalakan Lampu
  • Lampu dinyalakan pada malam hari selama 1-2 hari setelah pullet datang.
  • Tujuannya memberikan kesempatan pullet untuk makan lebih lama agar target konsumsi pakan dan berat badan bisa pulih secepatnya.
  • Formulasi pakan :  Konsentrat 33 %, Jagung 47 % dan Bekatul 20 %.
B. MENANGANI PULLET SETELAH 1 MINGGU DATANG

1. Memberikan Vaksin ND
  • Memberikan proteksi kekebalan terhadap pullet.
  • Bila aplikasi lewat air minum (drinking water) gunakan 1,5-2 dosis.
  • Berikan Susu skim (skim milk) 1 hari sebelum vaksin dan saat vaksin dilakukan.
2. Mengatasi konsumsi pakan yang rendah
  • Untuk pullet yang memiliki crop capacity (kapasitas tembolok) maksimal, biasanya tidak ada masalah dengan konsumsi pakan.
  • Kapasitas tembolok maksimal bisa dilakukan dengan men-setting perkembangan fisiologi pullet pada masa growing.
  • Usaha untuk mencapai target konsumsi pakan sesuai dengan standart. Yang paling sering dilakukan adalah dengan cara korek/membalik pakan.
  • Pola pemberian pakan 30-40 % pagi dan 60-70 % sore hari.
  • Skipday feeding,  dengan melatih/menguras pakan pada saat puncak panas (tengah hari).
  • Menyalakan lampu 2-3 jam setelah hari gelap untuk memberi kesempatan pullet mengkonsumsi pakan lebih panjang.
  • Merubah komposisi pakan dengan menurunkan jagung 2 %. Komposisi pakan yang umum  adalah Konsentrat 33-35 %, Jagung 50 % dan Bekatul 15-18 %.
  • Menambahkan pakan starter layer crumble/kimble 5 gram/ekor/hari. Tujuannya untuk palatabilitas pakan.

C. MENANGANI PULLET USIA 18 MINGGU

1. Memisahkan Pullet yang berjengger pucat
  • Pullet yang berjengger puret (pucat) harus dipindahkan ke kandang baterai yang mendapat sinar lebih banyak/besar.
  • Timbang berat badan pullet yang jenggernya puret (pucat). Bila berat badan > 1.300 gram/ekor lakukan injeksi vitamin E + Selenium.
  • Secara normal pullet dengan berat badan minimal 1.300 gram per ekor (terdapat -/+ 5 % lemak tubuh). Lemak tubuh akan merangsang kerja hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) untuk pertumbuhan dan pematangan indung telur.
2. Pullet mulai belajar betelur
  • Penambahan cahaya dimulai dengan menaikkan ½ jam secara bertahap setiap minggu sehingga pada usia 23-24 minggu. Lama pencahayaan 16-17 jam per hari.
  • Penambahan Grit 0,5 % dan DCP P 18% ½ kg per ton pakan untuk sumber Ca. Setiap proses bertelur membutuhkan Ca dalam jumlah tertentu. Kebutuhan Ca di ambil dari sumber pakan dan simpanan Ca dalam tulang kaki (femur atau medullary bones). Defisiensi dalam waktu lama dapat mengakibatkan kelumpuhan.
D. MENANGANI PULLET USIA 19 MINGGU

1. Menyeleksi pullet berdasarkan tulang pubis
  • Pullet yang memiliki lebar tulang pubis 2 jari tangan orang dewasa menunjukkan tanda perkembangan organ reproduksi berjalan normal.
  • Pullet yang sudah memiliki lebar tulang pubis minimal 2 jari tangan orang dewasa, bagian cloaca (cupropodium) mulai basah.
  • Kontrol jumlah bulu primer sayap.  Normalnya berjumlah 9-10 helai.
  • Evaluasi program vaksinasi lanjutan.
  • Pengulangan injeksi Vitamin E + Selenium untuk pullet-pullet yang perkembangannya masih tertinggal.
E. MENANGANI PULLET USIA 20 MINGGU

1. Vaksinasi ND + IB live dan ND + IB killed
  • Pelaksanaan vaksin ND + IB live bisa dilakukan awal usia 20 minggu.
  • Berikan Susu skim (skim milk) 1 hari sebelum dan saat pelaksanaan vaksin ND+IB live.
  • Vaksin ND+IB killed diberikan 7-10 hari setelah vaksin ND+IB live atau saat produksi telur mencapai 10-20 % HD.
  • Sebelum vaksin IND+IB killed sebaiknya dilakukan cleaning program antibiotik spectrum luas.
F. MENANGANI PULLET USIA 21-24 MINGGU

1. Target Pencapaian
  • Target konsumsi pakan 100 gram per ekor dan mulai terus naik 1 gram per ekor per hari atau minimal 5 gram per ekor per minggu.
  • Target kenaikan produksi telur harian 2-3 % HD sampai dengan mencapai 84-88 % setelah itu kenaikkan ½-1 % sampai dengan puncak produksi ( > 90 %).
  • Target konsumsi pakan 118-120 gram perekor per hari dan Egg Mass 56-57 kg per 1.000 ekor.
2. Pullet Mulai Belajar Bertelur
  • Penambahan cahaya dimulai dengan menaikkan ½ jam secara bertahap setiap minggu sehingga pada usia 23-24 minggu lama pencahayaan 16-17 jam per hari.
3. Penambahan Sumber Kalsium
  • Lakukan penambahan Grit 0,5 % dan DCP P 18 % ½ kg per ton pakan karena untuk setiap proses bertelur membutuhkan Ca dalam jumlah tertentu.
Oleh : Bp. Ir Agus Suyanto

    Total comment

    Author

    Unknown
    Pada periode produktivitas yang tinggi, ayam terkadang mengalami gangguan peneluran. Gangguan tersebut bisa bersifat sementara maupun permanen, dengan tingkat penurunan produksi yang rendah sampai dengan berhenti bertelur. Artikel berikut ini memperlihatkan beberapa gangguan peneluran dan kemungkinan penyebabnya.

    Vent Gleet


    pullet

    Vent gleet adalah keluarnya cairan dari anus yang berbau amis yang menyebabkan pembengkakan/memar pada kulit. Vent gleet juga mengakibatkan bulu di sekitar anus menjadi kotor dan lengket. Biasanya juga menimbulkan lapisan bahan berkerak berwarna putih. Ayam yang mengalami kejadian ini terlihat lesu, produksi turun tajam bahkan berhenti bertelur.
    Vent gleet dapat menular, untuk itu apabila menemukan kasus ini, segera singkirkan ayam yang terjangkit penyakit ini. Pembersihan dan perawatan veteriner dapat mengatasi masalah ini, tetapi memakan biaya cukup banyak. Untuk itu sebaiknya segera culling ayam-ayam yang mengalami kejadian ini.

    Egg Bound


    pullet

    Hal ini terjadi apabila telur yang di hasilkan di uterus, tidak bisa di keluarkan. Ayam akan berusaha mengejan untuk mengeluarkan telur dari uterus, sehingga mengakibatkan saluran oviduct turut keluar melalui anus. Apabila hal ini diketahui oleh ayam yang lain maka akan memicu kanibalisme dan menimbulkan kematian.
    Kondisi ini bisa diakibatkan karena telur yang terlalu besar, adanya tumor pada oviduct atau terjangkitnya penyakit tertentu yang mengganggu system syaraf dan sekresi lendir di oviduct. Apabila kejadian ini terjadi akibat telur yang terlalu besar, dapat dibantu dengan memberikan pelumas di saluran oviduct atau pecahkan telur tersebut dalam saluran reproduksi. Tetapi apabila karena tumor atau suatu penyakit, sebaiknya ayam tersebut di culling.

    Egg Peritonitis


    pullet

    Merupakan infeksi dalam rongga perut yang disebabkan oleh tidak masuknya telur ke dalam oviduct, sehingga menyebabkan akumulasi kuning telur dan penyumbatan oviduct. Hal ini juga mengakibatkan egg bound, stress fisik atau cacat pada ayam. Infeksi mengakibatkan terbentuknya material mirip keju atau cairan kental. Ayam yang mengalami hal ini. Perutnya akan membengkak, lesu, dan gerakannya menyerupai bebek. Ayam yang terkena Egg Peritonitis sebaiknya di culling, karena bila dilakukan pengobatan akan memakan biaya yang lebih besar.

    Protrusion
    Protrusion terjadi ketika oviduct dipaksa keluar dari anus ayam. Hal ini bisa diakibatkan oleh :
    - Iritasi karena vent gleet;
    - Terjadinya Egg bound;
    - Mengeluarkan telur yang oversize;
    - Tumbuhnya tumor;
    - Ayam ketakutan/stress.

    Bila protrusion ini terjadi dan diketahui ayam yang lain, akan memacu untuk dipatuk dan mengakibatkan kematian. Untuk itu segera pisahkan ayam tersebut, cuci oviduct yang keluar tersebut dengan desinfektan untuk mengurangi infeksi dan secara perlahan-lahan dorong masuk saluran tersebut ke dalam anus ayam. Namun demikian ayam yang sudah mengalami kejadian ini cenderung akan mengalami hal yang serupa. Untuk itu jalan terbaik adalah ayam tersebut di culling.

    Oleh : PRASETYANTO KUSUMO R.

    Total comment

    Author

    Unknown